Happy Mother’s Day

Happy Mother’s Day :)

Selamat hari ibu, mamahku tersayang. Terima kasih atas kasih sayang mamah terhadap ade selama 19 tahun ade hidup di dunia ini. Sejak ditiupkannya ruh ke dalam rahim mamah ketika mengandung ade, tak henti-hentinya mamah mencurahkan segala hidup mamah untuk merawat ade. Semoga Alloh senantiasa membalas jasa-jasa mamah dengan memberikan mamah kesehatan, umur yang panjang dan berkah, dijauhkan dari segala marabahaya di dunia ini, dan kelak menjadi wanita penghuni Syurga.

Mamah adalah mama yang luar biasa terhebat dan terindah dalam hidup ade. Tiada mama yang istimewa selain mamah. Maafkan ade jika selama ini ade sering khilaf dan selama 19 tahun ini ade belum bisa memberikan apa-apa untuk mamah kecuali baktiku dan kasih sayangku, serta segala perhatianku untuk mamah karena hanya mamah yang membimbing ade hingga saat ini. Dan terima kasih yang tak terhingga karena mamah selalu memaafkan segala kesalahan ade.

Sungguh bahagianya ade memiliki mama seperti engkau. Sungguh Maha Besar Alloh memberikan mama sebaik dan sesempurna engkau. Sungguh tak ada hentinya ade mengucap syukur atas hadirnya engkau di setiap hariku. Di setiap sujudku, ade berdoa kepada-Nya hanya untuk engkau.

Mamah, sungguh ade merasakan betapa berartinya mamah setelah ade kehilangan papah lima tahun lalu. Dan selama tanpa papah di samping mamah, mamah menjadi ibu sekaligus ayah yang luar biasa pengorbanannya bagi ade dan kakak yang lain. Ade tahu bahwa pengorbanan mamah tidak bisa terbalaskan oleh apapun di dunia ini. Namun, terimalah persembahan kecil ini untuk mamah sebagai tanda rasa sayangku kepada mamah. I love you, Mom. Ever after.

Sincerely,

Your lovely daughter,

R. Ockti Karleni

Bandung, Minggu, 22 Desember 2013 20:47

Shakuntala

Aku menangis karena aku ingin kembali ke kotaku yang teduh tapi mustahil
melarikan diri. Mustahil. Karena itu aku menari… Tapi ia bermain sendiri-sendiri, seperti aku: menari sendiri. Kami penuh dalam diri masing-masing, tidak mengisi satu sama lain, apalagi melengkapi upacara n penyambutan tamu-tamu sultan atau turis keraton…aku menari sebab aku sedang merayakan tubuhku

Sumber: Saman, Ayu Utami, (119-120), (125-126)

Sejarah Masa-depan: Evolusi Homo Sapiens

Manusia dalam taksonomi Biologi dikenal dengan nama Homo sapiens, yang dalam bahasa Latinnya berarti ‘Orang bijak’. Makhluk ini dipercaya mulai muncul sekitar 200.000 tahun yang lalu. Dan, mulai mengembangkan kebiasaan modernnya sejak 50.000 tahun yang lalu. Dan, Sang Waktu terus berlalu… …hingga mengubah wajah dunia seperti kini yang kita tinggali. Saya tertarik dengan terminologi yang ditawarkan Jean Baudrillard pada 1970. Ia mendefinisikan Homo economicus atau lebih tepatnya Homo psycoeconomicus pengganti Homo sapiens atas gejala perubahan yang sedang dialami manusia. Jean Baudrillar menggolongkan manusia sebagai makhluk yang mulai tidak bisa lepas dari kegiatan ekonomi. Dan, akan semakin tenggelam dalam kegiatan ekonomi untuk memenuhi hasrat-hasrat konsumsinya. Hasrat konsumsi makhluk ini pun tidak lagi seputar pemenuhan kebutuhan-kebutuhan dasar sebagaimana manusia, seperti; wujud makan dan minum. Tapi, telah menjurus pada hal-hal yang tanwujud; imajiner » simbolis.

Tentu saja Homo psycoeconomicus ini belum lahir dari penggalian fosil. Namun, perilakunya nyata di hadapan kita. Makhluk-makhluk rodi ekonomi ini tidak lagi makan hanya untuk menghilangkan lapar. Dan, minum tidak lagi hanya untuk melegakan dahaga. Tapi, makan dan minum baginya juga adalah simbol; pernyataan atas status ekonominya. Maka, makhluk-makhluk ini mulai memakan merk, menyantap prestise, meminum gengsi. Saya tidak mau terjebak dalam sudut pandang permasalahan klise; hitam dan putih. Ini bukan tentang perilaku baik dan buruk. Ini sejarah masa yang akan datang.

Maka, jika kita cermati, gejala evolusi Homo sapiens ini mulai merebak sekitar tahun 1.200 Masehi. Seiring dengan kisah pengembaraan bangsa-bangsa putih mencari sumber-sumber kekayaan baru. Mereka mulai menempuh samudera demi sebuah dongeng tentang Pulau Emas atau demi sebuah kehormatan–di mata agama–nama keluarganya–yang tentu nilainya imajiner. Bermunculanlah Homo economicus ketika perilaku manusia tidak bisa lepas dari pemenuhan kegiatan ekonomi. Berlomba menjadi kaya. Ada yang menjajah. Ada yang terjajah.

Selang 1.000 tahun kemudian, ketika manusia relatif telah memenuhi kebutuhan ekonominya, mereka membutuhkan saluran lain. Saluran pernyataan bahwa ia telah kaya. Bahwa saya lebih kaya dari Anda. Atau, jika Anda lebih kaya dari saya, sila buktikan (perlihatkan). Maka, berbondong-bondonglah manusia memakan daging di KFC, memakan burger di McD, meminum kopi di Starbuck. Sebab, yang hendak mereka penuhi bukan hanya wujud, tapi abstraksi prestise; tingkat ekonomi. Dengan demikian kita telah menginjak era baru dalam evolusi manusia, Homo psycoeconomicus–pemangsa gengsi, pemburu merk, peramu prestise.

Dalam keadaan demikian kita tidak bisa mengelak, sama-sekali. Bahkan maju dan mundurnya sebuah negara pun kini ditentukan oleh seberapa besar daya konsumsi masyarakatnya. Jikapun ada jalan untuk bertahan, ia tidak akan dapat menyesuaikan diri. Itu artinya gagal dalam proses evolusi. Berarti punah. Kita telah menginjak era baru. Homo sapiens sebagai ‘Orang yang bijak’ tengah dipertanyakan eksistensinya (sejak 1970 oleh Baudrillard).

Sumber: Indra Sarathan, M. Hum, Bandung, Rabu, 11/12/2013

http://sejarah.kompasiana.com/2012/04/02/sejarah-masa-depan-evolusi-homo-sapiens-451327.html

Indonesia Baru Tanpa Korupsi

Hari Senin kemarin, tanggal 09 Desember 2013 diperingati sebagai HAKI (Hari Anti Korupsi Internasional). Namun, saya sebagai mahasiswa, belum banyak berkontribusi dalam hal ini. Padahal, Indonesia masuk dalam daftar Negara Terkorup. Memerangi korupsi bisa kita mulai dari hal yang kecil. Berperilaku jujur termasuk salah satunya. Jujur adalah sebuah perilaku yang apa adanya, artinya kita tidak mengurangi atau menambah sesuatu hal apapun. Saya berharap bukan hanya saya yang menyadari pentingnya berperilaku jujur, namun rakyat Indonesia lainnya, khususnya para wakil rakyat yang ada di gedung sana.

"Hidup itu cobaan. Bukan hidup namanya, jika tanpa cobaan. Try to learn. You can, yes you can."

— R. Ockti Karleni

Tags: Live Life Quotes

Manusia sebagai homo sapiens atau primata?

Saya mengikuti acara bedah buku yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Sastra Indonesia Unpad yang dihadiri oleh penulis terkemuka yaitu Bapak Ahmad Tohari. Beliau memaparkan bahwa manusia layaknya primata, sebab manusia masih serakah. Ibarat monyet, diberi satu pisang, diterima oleh tangan kanan, diberi satu pisang lagi, diterima oleh tangan kiri, diberi satu pisang lagi, diterima oleh kaki kanan, diberi satu pisang lagi, diterima oleh kaki kiri, dan diberi pisang terakhir, dia emut dalam mulutnya.

Primata tidak akan pernah puas atas apa yang kita berikan, ia akan menerimanya lagi, lagi, dan lagi. Walaupun dia memiliki segalanya. Maka dari itu, manusia layaknya primata-primata. Manusia serakah terhadap harta, tahta, dan jabatan. Berbeda dengan homo sapiens, homo sapiens merupakan makhluk yang pintar, menggunakan akal sehatnya, dan cenderung memelihara yang ada sekarang, bukan merusak.

(Source: peacecorps.gov, via peacecorps)

"Jika semua kebutuhan dan keinginan terpenuhi, kapan kita belajar sabar?"

R. Ockti Karleni

"Menanam sugan, di tanah lamun, hasilnya mudah-mudahan"

— Angkot Day :D

Patience

" Therefore be patient with a patience which is beautiful.” (Surat Al-Ma‘arij, 5)
Patience is one of the most important characteristics of a believer. Patience is very valuable when it is a patience which is beautiful. Almighty Allah creates events, for which one needs to show patience in many moments of a Muslim’s life. Weaknesses of the life of this world, diseases, people whom Allah creates for the training of one’s inner self, actions and the words of unbelievers are some of these. It is a great beauty to live with a hope for the Garden that Allah created as a perfect manifestation of the infinite beauties revealed in the Koran and the hadiths. While a Muslim hopes for the exquisitely beautiful Garden from Allah, he or she also shows a beautiful patience for the weaknesses of the life of this world, which is created with many deficiencies for a special purpose.
One of the most important characteristics of a beautiful patience is that the person endures with a satisfied heart. While being patient, the person is absolutely sure that all the things Allah showed them were created in the best, most fortunate and the most erudite way. This can be seen from the person’s facial expression, the serenity of their souls and the way they talk. On their faces there is the peaceful expression of patience and in their statements there is the maturity and submission of this patience.
A person who is patient  endures with the consciousness that he or she is patient for the good pleasure of Allah and with pleasure. Just as a person tries to thank Allah in the best way possible, use that blessing in the best way and thank Allah with a sincere heart and words when faced with a prosperity of blessings, they  should consider everything as a blessing granted by Allah when faced with incidents that need to be endured. They  should know that incidents are created by Allah with the reasons of paving the way for many beauties and act knowingly that all things are  granted  by Allah and live this beauty and pleasure while being patient.
One of the reasons behind this beautiful patience is that it makes the person closer to Allah and it increases a sincere Muslim’s love for Allah. A person who is patient about a hardship, a trouble or a disease knows that every second of that patience is very precious in the sight of Allah. The return for a deed, which is carried out with beautiful patience, and a deed, which is carried out with no effort or in very comfortable circumstances, may not be the same in the hereafter. If a person works for the good pleasure of Allah and is patient about something at the same time, this morality of theirs may render this deed more valuable. For example, a sacrifice in a time of sickness and a sacrifice in a time of health may not be equal. If a person sacrifices in a time of sickness for the good pleasure of Allah, he or she experiences the deep and sincere beauty of patience at the same time by Allah’s will. Therefore, Muslims are patient in the most beautiful manner as revealed in the Qur’an, behave in the best way and live by hoping to earn the good pleasure of Allah as a result of this beautiful patience until the moment they die.
 
 
2013-02-22 11:54:12

Source: harunyahya.com